JAKARTA – Indonesia memproyeksikan kebutuhan tambahan sebanyak 150.000 insinyur dalam kurun waktu enam tahun ke depan guna mendukung akselerasi industri digital nasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa permintaan tenaga ahli ini meningkat tajam, terutama pada sektor-sektor strategis.
Salah satu fokus utama adalah industri semikonduktor yang diperkirakan membutuhkan sekitar 15.000 insinyur. "Kita membutuhkan tambahan sebesar 45 persen dari jumlah insinyur yang ada saat ini. Secara spesifik, industri semikonduktor memerlukan sekitar 15.000 orang, sementara industri digital secara keseluruhan membutuhkan tambahan 150.000 insinyur dalam satu hingga enam tahun ke depan," ujar Airlangga dalam pernyataan resminya, Kamis (5/3).
Transformasi Tenaga Kerja dan Kesiapan AI
Menanggapi kebutuhan mendesak ini, Kementerian Ketenagakerjaan tengah menggencarkan program pelatihan vokasi melalui skema retraining dan reskilling. Pemerintah juga telah menjalin kerja sama strategis di London antara Danantara dan ARM Limited untuk memberikan pelatihan khusus bagi 15.000 insinyur dalam ekosistem ARM.
Selain pemenuhan sumber daya manusia, Indonesia juga mempertegas posisinya sebagai pemimpin teknologi di Asia Tenggara dengan menjadi negara pertama di kawasan ini yang merampungkan UNESCO AI Readiness Assessment. Langkah ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya sekadar mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI), tetapi juga telah menyiapkan kerangka hukum, etika, dan sosial untuk inovasi masa depan.
Airlangga memaparkan bahwa industri yang mengadopsi AI secara cepat terbukti mampu mencatatkan pendapatan hingga tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan industri yang lambat beradaptasi, dengan peningkatan produktivitas antara 8,5 persen hingga 27 persen. Di tingkat nasional, teknologi AI generatif diperkirakan mampu meningkatkan kontribusi ekonomi Indonesia hingga 243,5 miliar dolar AS.
Ambisi Global dan Keamanan Siber
Indonesia kini bertransformasi menjadi pusat inovasi digital di kawasan, dengan proyeksi nilai ekonomi digital mencapai 124 miliar dolar AS pada tahun 2025—terbesar di ASEAN. Pada tahun yang sama, pengguna internet di Indonesia diperkirakan menembus 230 juta jiwa dengan penetrasi koneksi seluler mencapai 116 persen.
Pemerintah menetapkan target besar untuk masuk dalam jajaran 45 besar Global Innovation Index pada tahun 2030. Di sisi keamanan, data Cyber Security Index 2024 menunjukkan Indonesia telah berada di Tier 1 atau kategori "role model".
Airlangga menekankan bahwa teknologi seperti AI dan Big Data harus dimanfaatkan untuk solusi nyata, seperti mengatasi kekurangan air, optimalisasi jaringan energi, dan pembangunan kota yang tangguh. "Kita harus memastikan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi konsumen teknologi maju, tetapi juga sebagai pencipta dan pemilik teknologi tersebut," pungkasnya.